Berbicara perihal introver atau ekstrover, merupakan masalah untuk saya. Kenapa begitu? Di fase hidup menjelang 25 tahun ini, saya malah kembali bimbang: apakah introver, ataukah ekstrover? Pernah menjadi ekstrover via knowyourmeme.com Saya masih ingat, dulu sewaktu kecil saya sangat aktif. Ini terjadi hingga saya lulus SD dan melanjutkan pendidikan SMP di kota. Menjadi introver berlangsung pada masa-masa SMP hingga satu semester perkuliahan. Lagi-lagi saya...
Halo halo Bandung, ternyata sudah satu bulan saya tidak menulis. Bulan Oktober terlalu sibuk untuk sekadar menulis pembelaan. Tapi memang Oktober kegiatan lumayan padat, sebulan kemarin saya pergi ke lapang sebanyak dua kali. Akhirnya baru sempat menulis di awal bulan November ini. Sebelumnya ada yang bertanya: kok bisa sih freshgraduate kerja di NGO? Atau kok bisa sih dapet kerjaan kayak gini? Memang kalau kita...
Gempabumi, atau tanah goyang dalam bahasa Melayu-Ternate, sudah tercatat sejak kemarin lusa (27/9). Gempabumi ini, sejauh pemberitaan di media belum sampai merusak. Namun getarannya terasa cukup kuat, dan dirasakan banyak orang. Selama hampir setahun saya tinggal di Ternate, hari ini (Jumat, 29 September) yang terkuat. Dan, selama tiga hari berturut-turut ini yang paling sering terjadi gempabumi. Setelah beberapa kali mengunjungi situs BMKG, maka...
Disclaimer: tulisan kali ini bukan nyinyir semata, namun juga tiada maksud untuk menyindir Long weekend banyak didamba sebagian orang, apalagi yang sudah bekerja. Yang sudah gawe. Tak terkecuali saya. Selama saya bekerja di Maluku Utara, tiada beda antara hari kerja dan hari libur. Meski sudah tertera di lembar SOP kalau Sabtu dan Minggu libur. Tetap, bekerja di LSM haruslah dengan semangat kesukarelaan. Ya,...
Bandara Oesman Sadik, Labuha Hal yang saya syukuri dari pekerjaan saya saat ini adalah bolak-balik ke lapang, yaitu Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel). Halsel merupakan kabupaten terluas di Provinsi Maluku Utara. Ibukota kabupatennya ialah Labuha, yang berada di Pulau Bacan. Pulau Bacan merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Halsel. Artinya, pusat keramaian juga berada di sini. Bandara Oesman Sadik merupakan bandara satu-satunya bandara di pulau dengan...
Menilik Pewarisan Nilai-nilai Leluhur Jawa dalam Pasar karya Kuntowijoyo
8/06/2017 / BY A b d ï
Judul: Pasar Penulis : Kuntowijoyo Tata sampul: Buldanul Khuri Cetakan: Pertama, Februari 2017 Tebal: 378 halaman Penerbit: DIVA Press dan Mata Angin Pasar dalam genggaman via dokumentasi pribadi Pasar. Judulnya unik, ilustrasi sampulnya juga menarik. Saya sendiri seperti ditatap oleh bapak tua, yang dalam buku ini adalah representasi saya atas tokoh Pak Mantri Pasar. Tenang, buku ini bukan mengenai teori-teori ekonomi. Tidak ada...
Saya sadari ya, kalau saya menua. Iya, tahun ini menginjak usia 23 tahun. Senang, sedih. Suka, duka. Takut, marah. Cemas, puas. Semuanya sudah saya rasakan dalam rangka merayakan usia perak bertajuk #QuarterLifeCrisis ini. Di usia ini saya sudah bekerja, tidak mengharapkan apa-apa kecuali bisa mengulang kembali masa-masa kuliah. Dan saya ketagihan akan masa-masa itu. Masa-masa dimana masih menjadi gembel, namun sekarang sudah meningkat...
Saya benci ketika harus menulis, dan berakhir dengan tanda khusus, yakni draft. Menjadi distraksi tersendiri bagi saya, apalagi itu sudah berbulan-bulan lamanya. Seperti ini misalnya. Draft yang mengganggu via Dokumentasi Pribadi Pun saya tidak bisa menulis karena merasa terdistraksi dengan warna oranye saat masuk ke tab "post" di blogger. Karena malas duluan, maka saya memutuskan untuk menutup tab blogger, dan memilih pergi berselancar ke situs...
Kemarin, hari Kamis, 9 Juni 2017, saya berulang tahun. Setidaknya itu menurut standar umum. Saya lantas bertanya, memang makna ulang tahun itu apa? Memaknai ulang tahun pasti berbeda-beda setiap orang. Ada yang bermakna bertambah usia, berkurang usia, (seharusnya) menjadi dewasa, dan lain sebagainya. Untuk saya sendiri, apa itu ulang tahun? Selamat ulang tahun! via Pinterest Dari pemaknaan kebahasaan (menurut saya), ada dua kata...
Kopi mendekatkan kita via akun instagram Coffeetarian Agak susah menurut saya mencari kedai kopi di Ternate. Mau cari angkringan seperti di Jawa, apalagi. Jadilah di awal-awal kepindahan saya di sini membawa kopi sendiri dari rumah. Saya sendiri tidak terlalu fanatik kopi ya, bukan penikmat garis keras juga. Cuma setidaknya saya tau perbedaan kopi arabika dan robusta. Apa itu coffee speciality. Berapa perbandingan susu di...
Kisah ini jadi semacam pertanda menurut saya, pertanda kematian seseorang yang tidak wajar. Sudah tahu kan kalau alam juga berbahasa? Jadi, beberapa hari yang lalu tepatnya pada weekend di Ternate sendiri cuaca sedang buruk. Hujan dan berangin. Mendung menutup sang surya untuk membagi-bagikan cahayanya. Agak mencekam menurut saya, selain tidak bisa jemur pakaian juga. Bagi anak kos seperti saya, ini bukan pertanda baik. Apalagi harus...
Gerbang Dialog Danur: Seharusnya Ditulis Pieter, Bukan Peter
3/27/2017 / BY A b d ï
Sampul depan buku Gerbang Dialog Danur karya teh Risa via tokopedia.com Dalam rangka rilisnya film Danur: I Can See Ghosts, yang terilhami dari buku berjudul Gerbang Dialog Danur karya teh Risa Saraswati, vokalis band indie Sarasvati, maka saya ikut menuliskan perhatian saya terhadap karya ini. ...
Program #1bulan1buku sudah memasuki bulan keempat, sejak hiatusnya program itu dari kebiasaan rutin saya. Memang, bulan-bulan sebelumnya buku apa? Kok tidak ditulis?
Buku sebelumnya yaitu Supernova #3, #4, dan #5, sebenarnya. Saya tidak berniat untuk mengulas karena saya kira sudah banyak. Lagi pula, saya membaca di saat semua sudah moksa ke Asko, sedangkan masuk angkatan terakhir yang tau Asko itu apa. Ya sudah, akhirnya saya meresensi buku ini saja.
Tampak depan buku Rabu Rasa Sabtu
Biodata buku:
Judul: Rabu Rasa Sabtu
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2015
Jumlah halaman: 240
Di sampul belakang buku tertulis:
Seorang gadis bernama Ayang menderita kelainan batuk, sebenarnya karena dikutuk setiap kali dipeluk. Nasib Ayang benar-benar malang. Ia menderita. Setiap kali batuk satu giginya tanggal, hingga akhirnya ia ompong. Pandangannya kosong. Untuk mengganti giginya yang tanggal, dipasang gigi anjing. Tapi suara Ayang jadi melengking....
Kutipan di atas ada dalam buku ini. Tapi itu bukan cerita yang sesungguhnya, karena kejadian membentuk ceritanya sendiri. Setiap kata mengajak kata yang berdekatan, lalu ada kalanya bergenit menyaru sebagai puisi, atau berusaha membentuk kalimat. Misalnya bahwa Ayang sudah ditentukan umurnya--meskipun mati karena batuk kurang dramatis, dan ada lelaki yang suka menggendong, mencintainya, walaupun Ayang tinggal separuh.
Barangkali itu terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu.
Intro
Buku ini merupakan karya dari Arswendo Atmowiloto yang pertama kali saya baca. Sebelumnya saya cuma mendengar nama Arswendo, belum tau karya-karya beliau seperti apa. Ternyata setelah menelusuri Mbah Google, ternyata beliau juga menulis untuk Keluarga Cemara, yang adegannya saya tidak ingat jelas seperti apa.
Buku ini terdiri dari tiga bagian, yaitu:
- Bagian pertama - Aku Mencintaimu, Kalaupun Kamu Hanya Separuh
- Bagian kedua - Mencari Buaya Putih
- Bagian ketiga - Kematian dan Kelamin itu Kekuasaan Tuhan
Membaca halaman pertama dari bagian pertama adalah hal terbosan saya dengan buku ini. Saya sudah hampir menyerah dan sudah membuat saya ingin berhenti. Namun, saya tetap paksakan karena sayang dengan uang sudah saya keluarkan.
Tapi, lembar berganti lembar saya malah dibuat penasaran. Saya suka susunan kalimat yang membentuk rima, sudah mirip puisi saja. Saya kira beliau memang menuliskannya seperti puisi.
Mama Tera bisa bicara tajam, namun selalu memilih diam. Sebagian masyarakat hanya mengenalnya sebagai perempuan dengan wajah muram, semata karena kedua alis kiri-kanan seakan dipersatukan. -- halaman 19.
Bagian pertama bercerita tentang latar belakang Wayang Supraba, tokoh sentral dalam buku ini. Berikut perkenalan dengan tokoh utama lain yaitu Jalmo. Bagaimana mereka bertemu, dan keduanya tak sengaja saling jatuh hati. Demikian pula dengan ayah-ibu Wayang yang merestui hubungan keduanya.
Bagian kedua merupakan babak baru dimana Way --panggilan Wayang-- dan Jalmo berkelana menuju ke Sungai Eretan, dimana di sana ada buaya putih. Dan, bagian ini menceritakan tentang kampung yang sepi sebelum kedatangan Way dan Jalmo, dibuat ramai karena kedatangan keduanya.
Bagian ketiga adalah bagian terungkapnya masa lalu Jalmo, kepada siapa Way "bernafsu", dan serpihan ingatan Jalmo tentang teman masa kecilnya.
Interlude
Ya, sebagai pengalaman pertama membaca buku Arswendo, saya menilai buku ini unik. Selain karena dipenuhi diksi, kalimat dalam buku ini bisa diterima oleh orang awam seperti saya. Lagi, buku ini sangat vulgar, tidak cocok untuk dibaca bagi yang belum ber-eKTP. Banyak adegan enaena-nya.
Selain itu, di sini Arswendo bermain-main dengan definisi waktu. Saya jadi ingat buku Supernova: KPBJ, kalau manusia itu menciptakan konsep waktu dan ingin memiliki kuasa untuk waktu. Maka dibuat standar waktu 24 jam per hari, supaya manusia bisa memiliki kuasa untuk bekerja, makan, dan beraktivitas yang lain. Kira-kira mirip seperti itulah apa yang disampaikan beliau di buku ini.
Di buku juga ada istilah baru, misalnya selaksa yang artinya sepuluh ribu kali, dan daksa yang berarti tubuh. Buku ini sejak awal menyinggung masalah homoseksualitas, sedikit. Jangan dikira homoseksualitas ini cuma terbatas pria menyukai pria, tapi lebih luas.
Penokohan
Tokoh di buku ini tidak terpusat pada duo Way-Jalmo. Tapi ada juga kisah keluarga angkat Jalmo yang menurut saya seperti Dimas Kanjeng, sama-sama tukang tipu. Tapi orang tua angkat Jalmo menipu dalam hal pengobatan.
Ada pula Pak Efendi yang apesnya, diPHK gara-gara Jalmo. Entahlah, cerita Pak Efendi membuat saya gemas karena dia juga orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, lalu dipatuk ular, masih digigit buaya lagi. Sialnya beruntun, tapi akhir kisahnya menggantung.
Kisah teman masa kecil Jalmo yang diketahui mengidap kanker menarik buat saya. Dari nama dua kawannya yang mirip, hingga akhirnya diketahui siapa yang menggambar Rajawali Gila.
Outro
Sebagai penutup, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Meski banyak adegan yang vulgar, tapi bukan itu topik utamanya. Sayat tak menyangka Jalmo dan Way akan berakhir demikian, biarlah proses membaca buku ini yang menjadi penilaian pada akhirnya.
Bagian kedua merupakan babak baru dimana Way --panggilan Wayang-- dan Jalmo berkelana menuju ke Sungai Eretan, dimana di sana ada buaya putih. Dan, bagian ini menceritakan tentang kampung yang sepi sebelum kedatangan Way dan Jalmo, dibuat ramai karena kedatangan keduanya.
Bagian ketiga adalah bagian terungkapnya masa lalu Jalmo, kepada siapa Way "bernafsu", dan serpihan ingatan Jalmo tentang teman masa kecilnya.
Interlude
Ya, sebagai pengalaman pertama membaca buku Arswendo, saya menilai buku ini unik. Selain karena dipenuhi diksi, kalimat dalam buku ini bisa diterima oleh orang awam seperti saya. Lagi, buku ini sangat vulgar, tidak cocok untuk dibaca bagi yang belum ber-
Selain itu, di sini Arswendo bermain-main dengan definisi waktu. Saya jadi ingat buku Supernova: KPBJ, kalau manusia itu menciptakan konsep waktu dan ingin memiliki kuasa untuk waktu. Maka dibuat standar waktu 24 jam per hari, supaya manusia bisa memiliki kuasa untuk bekerja, makan, dan beraktivitas yang lain. Kira-kira mirip seperti itulah apa yang disampaikan beliau di buku ini.
Di buku juga ada istilah baru, misalnya selaksa yang artinya sepuluh ribu kali, dan daksa yang berarti tubuh. Buku ini sejak awal menyinggung masalah homoseksualitas, sedikit. Jangan dikira homoseksualitas ini cuma terbatas pria menyukai pria, tapi lebih luas.
Tampak belakang buku Rabu Rasa Sabtu
Penokohan
Tokoh di buku ini tidak terpusat pada duo Way-Jalmo. Tapi ada juga kisah keluarga angkat Jalmo yang menurut saya seperti Dimas Kanjeng, sama-sama tukang tipu. Tapi orang tua angkat Jalmo menipu dalam hal pengobatan.
Ada pula Pak Efendi yang apesnya, diPHK gara-gara Jalmo. Entahlah, cerita Pak Efendi membuat saya gemas karena dia juga orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, lalu dipatuk ular, masih digigit buaya lagi. Sialnya beruntun, tapi akhir kisahnya menggantung.
Kisah teman masa kecil Jalmo yang diketahui mengidap kanker menarik buat saya. Dari nama dua kawannya yang mirip, hingga akhirnya diketahui siapa yang menggambar Rajawali Gila.
Outro
Sebagai penutup, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Meski banyak adegan yang vulgar, tapi bukan itu topik utamanya. Sayat tak menyangka Jalmo dan Way akan berakhir demikian, biarlah proses membaca buku ini yang menjadi penilaian pada akhirnya.
"Mo, aku mau kau nakal lagi".
"Mauuuu. Yuk."
Kemarin, saya mengunggah foto di akun Instagram saya, saya menuliskan caption tentang ruang sendiri. Karena waktu itu saya tidak punya kutipan atau kata-kata yang layak dijadikan caption, maka saya menuliskannya dengan random. Tenang, tulisan kali ini bukan tentang pemaknaan lagu Ruang Sendiri karya Tulus, namun lebih ke apa yang saya butuhkan, terkadang. Video klip lagu Ruang Sendiri ...
Bulan Februari memang cuma 28 hari, tapi edukasi tidak berhenti! Di tulisan sebelumnya saya menuliskan tentang kepindahan saya ke Ternate ini. Sekarang setidaknya tamu-tamu pembaca sudah paham kan mengenai pekerjaan saya? Yup, seorang juru kampanye newbie yang selalu mencoba belajar. Ditangkap so tara boleh, apalagi ngana pelihara di ngoni pe rumah, tara boleh lagi! ...
Well, finally I push myself to write in English. First of all, I have tried several times but it ends in "draft" or even worse, I deleted it. I think that write in English is a hard try, since I am a perfectionist person who do not tolerate any kind of mistake. Finally, here I am, I did it! From here When it...
Ini merupakan lanjutan dari tulisan saya pada bagian pertama. Silakan dibaca! Dari instagram @ternateheritage **** Sebelum menuju ke Bastion Real, kami main game dulu. Saya lupa apa namanya, tapi mirip dengan game "Kehilangan Habitat" di P-WEC. Tidak sampai gendong-gendongan sih, mungkin karena panitia tau kami -peserta- masih jaim. Ya sudah, yang penting ada gelak tawa juga di sini! Tempat game atau ice-breaking ini dulunya merupakan...
Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba! Acara ini merupakan rangkaian acara yang dimulai pada tanggal 3, 4, dan 5 Februari 2017. Penyelenggara acara ini yaitu Ternate Heritage Society atau yang dikenal juga dengan sebutan THS, sebuah organisasi nirlaba dari Kota Ternate. Sudah jelas kan dari namanya organisasi ini bergerak di bidang apa? Organisasi ini bergerak pada bidang pelestarian dan pendidikan pusaka yang ada di...
Sudah ada yang pernah nonton video seorang siswa SD yang disuruh menyebut nama ikan oleh Pak Jokowi? Yha. Video itu sedang viral. Poor him. Namanya juga netizen, seketika banyak meme-meme (dibaca mém ya, bukan mémé!) bermunculan terkait anak tersebut. Meski tidak bernada mengejek, atau melecehkan ada saja sisi lain dari suatu peristiwa. Setidaknya kita punya dua atau lebih versi cerita. Jadi begini.... ...
Halo! Saya sedang bernafsu untuk menulis, maka saya menulis! Scribo ergo sum, saya menulis maka saya ada. Begitulah quote ciptaan saya sendiri, yang diganti dari opto ergo sum di buku Supernova. Jadi, saya sekarang bisa membaca “petir” dan “partikel”. Sebuah hal yang sudah banyak orang lakukan. Hah?! Kok bisa? Ya, karena yang saya baca adalah dua onggok buku. Bukan petir dan partikel secara...
Judulnya sok-sokan pake bahasa Perancis. Diajak pake bahasa Perancis lu tong jawabnya lagu Reste Avec Moi-nya mbakyu Danilla mampus!. Entah sepertinya 2017 datang seperti tiba-tiba. Berderap bak kavaleri yang bergerilya(?) Kok bisa? Comment vas-tu? ...